Jumat, 01 Juni 2012

Hubungan Antara Kurikulum dan Pembelajaran


diposkan oleh Agus Setiawan
 
A.    Pendahuluan
Kurikulum yang selama ini memiliki banyak ragam pengertian mulai dari yang hanya terbatas pada bahan pelajaran yang akan diberikan oleh pengajar kepada para peserta didik, hingga kurikulum yang dianggap sebagai segala pengalaman yang telah direncanakan untuk dialami oleh peserta didik dalam proses belajarnya. Di dalam kurikulum juga terdapat beberapa komponen-komponen kurikulum seperti tujuan, isi, organisasi dan metode, dan evaluasi kurikulum. Tentu kurikulum di sini sangat berdekatan dengan proses pembelajaran, sebab di dalam kurikulum sendiri sudah tercantum hal-hal yang nantinya akan memengaruhi proses pembelajaran itu sendiri. Lalu bagaimanakah hubungan keduanya? Di manakah letak dari keterkaitan antara kurikulum dan pembelajaran?
B.     Pembahasan
Sekilas tentang kurikulum
Al-Syaibany (1979), mendifinisikan bahwa kurikulum terbatas pada pengetahuan-pengetahuan yang dikemukakan oleh guru atau sekolah atau institusi pendidikan lainnya dalam bentuk mata pelajaran atau kitab-kitab karya para ulama terdahulu yang dikaji begitu lama oleh para peserta didik dalam tiap tahap pendidikannya.[1] Selain itu, Olivia (1998), mendifinisikan kurikulum sebagai rencana atau program yang menyangkut semua pengalaman yang dihayati peserta didik dibawah pengerahan sekolah atau pergururan tinggi.[2] Dua definisi tentang kurikulum di atas sudah cukup mewakili definisi kurikulum secara umum, karena pada umumnya kurikulum didefinisikan dalam dua definisi yang sedikit berbeda, yang satu menekankan kurikulum terbatas pada materi pelajaran, dan yang lain menekankan pada segala aspek pengalaman yang menjadi proses belajar bagi peserta didik. Namun keduanya sama-sama mengandung pengertian bahwa kurikulum adalah rencana belajar.
Seperti yang dituliskan oleh Abdullah Idi, kurikulum memiliki beberapa pengertian yang memiliki perbedaan satu sama lain. Kurikulum bisa diartikan sebagai subject of matter, experience, intention, cultural reproduction, dan curriculum as curere.[3] Adapun beberapa pengertian tersebut adalah sebagai berikut;
1.      Kurikulm sebagai bahan pelajaran (curriculum as subject matter)
Kurikulum sebagai bahan ajar (subject matter) merupakan pengertian kurikulum yang paling tradisional. Kurikulum di sini digambarkan sebagai kombinasi bahan ajar yang akan diberikan kepada peserta didik.
2.      Kurikulum sebagai pengalaman (curriculum as experience)
Dalam pengertian ini, kurikulum digambarkan sebagai seperangkat pengalaman yang telah dirancang untuk proses pembelajaran peserta didik melalui penulisan kurikulum. Pengertian semacam ini bersesuaian dengan definisi yang diberikan oleh Olivia di atas.
Walaupun kurikulum masih memiliki banyak pengertian seperti yang dituliskan oleh Abdullah Idi, namun dalam kaitannya dalam pembelajaran, yang kami uraikan hanya dua pengertian pertama.

Sekilas Tentang Pembelajaran
            Pemebelajaran berasal dari akar kata belajar, yang membuktikan bahwa anatara pembelajaran dengan belajar memiliki hubungan yang erat. Belajar diartikan oleh Surya sebagai suatu proses yang dilakukan oleh individu untuk memperoleh perubahan perilaku baru secara keseluruhan, sebagai hasil dari pengalaman individu itu sendiri dalam berinteraksi dengan lingkungannya.[4] Yang perlu digarisbawahi pada kalimat tersebut adalah kata “berinteraksi dengan lingkungannya” yang menunjukkan bahwa belajar di pengaruhi oleh lingkungan sekitar peserta didik.
Yusufhadi Miarso memaknai istilah pembelajaran sebagai aktivitas atau kegiatan yang berfokus pada kondisi dan kepentingan pembelajar ( learner centerd ). Istilah pembelajaran digunakan untuk menggantikan istilah pengajaran yang lebih bersifat sebagai aktivitas yang berfokus pada guru ( teacher centered ). Oleh karenanya, kegiatan pengajaran perlu dibedakan dari kegiatan pembelajaran.[5] Penrnyataan itu menunjukkan bahwa pembelajaran berfungsi mengkondisikan situasi di sekitar peserta didik agar tercipta aktivitas belajar di dalam diri peserta didik. Kata “mengkondisikan situasi” di atas menunjukkan bahwa  pembelajaran di sini bersifat eksternal, yaitu yang berada di luar diri siswa tetapi mendukung terjadinya proses belajar di dalam diri siswa.
Berdasarkan ulasan di atas, perbedaan antara belajar dan pembelajaran adalah belajar sebagai proses internal yang dipengaruhi oleh pembelajaran sebagai proses eksternal.
Pembelajaran disini tentu sangat erat kaitannya dengan kurikulum, di mana kurikulum itu sendiri berfungsi sebagai perencanaan tentang pengalaman belajar.[6] Di satu sisi kurikulum adalah rencana tertulis yang telah dibukukan oleh para pengembang kurikulum yang nantinya akan menjadi tuntunan bagi para pengajar dalam melaksanakan proses pengajaran, di sisi lain pembelajaran akan meberikan out put berupa hasil belajar yang nantinya akan dievaluasi dan berguna dalam perencanaan dan perancangan kurikulum selanjutnya.

Kaitan Kurikulum Dengan Pembelajaran
Kurikulum dan pembelajaran merupakan dua hal yang tidak terpisahkan, meski berada pada posisi yang berbeda. Saylor merupakan bahwa kurikulum dan pembelajaran bagaikan romeo dan juliet. Jika kita berbicara mengenai Romeo, maka kita juga akan berbicara masalah Juliet. Romeo tidak akan lengkap terasa tanpa juliet, demikian pula sebaliknya. Artinya, pembelajaran tanpa kurikulum sebagai rencana tidak akan efektif, atau bahkan bisa keluar dari tujuan yang telah dirumuskan. Kurikulum tanpa pembelajaran, maka kurikulum tersebut tidak akan berguna.[7]
Selain itu, Olivia menyatakan bahwa kurikulum berkaitan dengan apa yang harus diajarkan, sedangkan pengajaran mengacu pada bagaimana cara mengajarkannya.[8] Walaupun antara pembelajaran dengan pengajaran dalam hal ini memiliki perbedaan, namun keduanya memiliki kesamaan tolak ukur dalam kasus ini, yaitu bagaimana mengajarkan. Hanya saja pengajaran lebih terpusat pada guru sebagai pengajar, sedangkan pembelarajaran menekankan pada penciptaan proses belajar antara pengajar dengan pelajar agar terjadi aktivitas belajar dalam diri pelajar.
            Belajar sebagai kegiatan inti dari pembelajaran memiliki arti modifikasi atau memperteguh kelakuan melalui pengalaman.[9] Yang perlu digaris bawahi pada kalimat tersebut adalah memperteguh kelakuan melalui pengalaman, ini membuktikan bahwa belajar sebagai kegiatan inti pembelajaran dipengaruhi oleh kurikulum yang notabenenya merupakan rancangan pengalaman belajar.
            Persoalan yang timbul selanjutnya adalah bagaimana menyusun kurikulum untuk kepentingan pembelajaran agar dapat dilaksanakan dengan optimal. Hal ini berbenturan dengan fakta bahwa kurikulum telah dirancang secara standar (standarized curriculum). Ini berarti bahwa kurikulum yang sama digunakan digunakan pada setiap sekolah yang notabenenya masing-masing sekolah tersebut memiliki masalah pelaksanaan pembelajaran yang berbeda. Maka dari itu diperlukan pengembangan seperlunya yang disesuaikan dengan kondisi disekolah. Hal ini bisa kita lihat pada perincian RPP.
            Peter F. Olivia menggambarkan kemungkinan hubungan antara kurikulum dengan pembelajaran dalam bagan berikut;
1.      Model dualistis
Pada model ini, kurikulum dan pembelajaran berdiri sendiri. Kurikulum yang seharusnya memjadi pedoman dalam pelaksanaan pembelajaran tidak tampak. Begitu juga dengan pembelajaran yang seharusnya dapat dijadikan tolak ukur pencapaian tujuan kurikulum tidak terjadi. Model ini digambarkan dalam bagan no.1
2.      Model berkaitan
Dalam model ini, kurikulum dengan pembelajaran saling barkaitan. Pada model ini, ada bagian kurikulum yang menjadi bagian dari pembelajaran, begitu juga sebaliknya. Model ini bisa dilihat pada bagan no 2.
3.      Model konsentris
Pada model ini, keduanya memiliki hubungan dengan kemungkinan bahwa kurikulum adalah bagian dari pembelajaran atau pembelajaran adalah bagian dari kurikulum. Lihat bagan no 3.
4.      Model siklus
Pada model ini, antara kurikulum dan pembelajaran di anggap dua hal yang terpisah namun memiliki hubungan timbal balik. Di satu sisi, kurikulum merupakan rencana tertulis sebagai panduan pelaksanaan pembelajaran, di sisi lain pembelajaran mempengaruhi pada perancangan kurikulum selanjutnya.[10] Lihat bagan no 4.

C.    Penutup
Walaupun kurikulum memiliki banyak pengertian seperti yang telah dikemukakan oleh para ahli, namun tentu semuanya masih memiliki kaitan yang pada akhirnya membawa kita pada pengertian kurikulum sebagai rencana belajar di mana pengertian yang satu ini dirasa lebih fleksibel. Dalam kaitannya dengan pembelajaran di mana pembelajaran itu sendiri diartikan sebagai sebuah proses yang sengaja dirancang sedemikian rupa agar tercipta aktivitas belajar dalam diri peserta didik, maka kurikulum yang notabenenya sebagai rencana belajar di anggap sebuah hal yang sangat erat kaitannya dengan pembelajaran. Di satu sisi, kurikulum adalah pedoman tertulis bagi pelaksanaan pembelajaran, di sisi lain pembelajaran akan memberikan masukan untuk penyempurnaan kurikulum yang akan datang.
Walaupun demikian, kaitan antara kurikulum dan pembelajaran juga tergantung pada pelaksanaan di lapangan. Kurikulum dapat di katakan sebagai pedoman bagi proses pembelajaran apabila dalam pelaksanaan pembelajaran para pengajar benar-benar mengikuti haluan yang diinginkan oleh kurikulum. Begitu juga sebaliknya, pembelajaran bisa memberikan masukan pada penyempurnaan kurikulum yang selanjutnya apabila proses evaluasi benar-benar berjalan dengan baik. Maka dari itu, hendaknya para pengajar, ahli kurikulum, dan semua individu yang terkait dalam hal tersebut untuk dapat melaksanakan tugas profesinya dengan seoptimal mungkin demi terciptanya pendidikan yang bermutu sesuai yang kita harapkan bersama.

D.    Daftar Pustaka


Muhaimin. 2010. Pengembangan Kurikulum Pendidikan Agama
Islam. Jakarta : Rajawali Pers.

            Idi, Abdullah. 2011. Pengembangan Kurikulum Teori Dan Praktik.
Jogjakarta : Ar-Ruzz Media.

            Salim, Agus. dkk, 2011, “Hubungan Dan Proses Belajar Dengan Perkembangan Individu Yang Sedang Belajar”. Makalah Pada Mata Kuliah Psikologi Pendidikan 2011. IAIN Raden Fatah Palembang.

            Salim, Hubungan  Antara Kurikulum Dengan Pembelajaran : 2010, 09-04-2012 (Online) Available : http://ktp09015.blogspot.com/2010/04/hubungan-kurikulum-dengan-pembelajaran.html

            Ali, Mohammad. 1992. Pengembangan Kurikulum Di Sekolah.
Jakarta : CV. Sinar Baru

Ziddan, Kurikulum Dan Pembelajaran ; 2012-04-11 (Online) Available ; http://willzen.blogspot.com/2011/12/kurikulum-dan-pembelajaran-kurikulum.html

Hamalik, Oemar. 2011. Proses Belajar Mengajar. Jakarta : Bumi Aksara




[1] Muhaiamin, Pengembangan Kurikulum Pendidikan Agama Islam, (Jakarta : Rajawali Pers, 2010), hal 2.
[2] Ibid.
[3] Abdullah Idi, Pengembangan Kurikulum Teori Dan Praktek, (Jogjakarta : Ar-Ruzz Media, 2011),  hal 47.
[4] Agus Salim, et. Al,. “Hubungan Dan Proses Belajar  Dengan Perkembangan Individu Yang Sedang Belajar”. Makalah Psikologi Pendidikan, (Palembang : Arsip Pribadi, 2011), hal 3, t.d.
[5] Salim, Hubungan  Antara Kurikulum Dengan Pembelajaran : 2010, 09-04-2012 (Online) Available : http://ktp09015.blogspot.com/2010/04/hubungan-kurikulum-dengan-pembelajaran.html

[6] Moh. Ali, Pengembangan Kurikulum di Sekolah, (Jakarta : CV. Sinar Baru, 1992), hal 2.
[7] Ziddan, Kurikulum Dan Pembelajaran ; 2012-04-11 (Online) Available ; http://willzen.blogspot.com/2011/12/kurikulum-dan-pembelajaran-kurikulum.html

[8] Ziddan, Kurikulum Dan Pemb ... Loc., Cit., (Online) Available ; http://willzen.blogspot.com/2011/12/kurikulum-dan-pembelajaran-kurikulum.html
[9] Oemar Hamalik, Proses Belajar Mengajar, (Jakarta : PT Bumi Aksara, 2011), hal 27.
[10] Ziddan, Kurikulum Dan Pemb ... Loc., Cit., (Online) Available ; http://willzen.blogspot.com/2011/12/kurikulum-dan-pembelajaran-kurikulum.html

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar